“Dari Jabir ra., “Sesungguhnya nabis saw.
telah bersabda: Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena agamanya, kedudukan,
hartanya dan kecantikannya. Maka pilihlah yang baik agamanya.”
Aku bingung juga, ini
tulisan bermaksud untuk buat Riview film Ayat-ayat Cinta 2 yang tanggal 28
kemaren udah tembus 1,5 juta penonton (belum update terbaru, kalo ada yang baca
terus udah liat up date’an boleh informasikan di komentar yaaak), atau mau
curhat. Hahahah...
Setidaknya, tulisan ini bisa memberi sedikit alasan kenapa kita, perempuan,
harus menolak feminisme. Walaupun sebenarnya bukan itu inti dari pembahasan
yang mau aku share kali ini. Well, sebelumnya, jika nantinya ada unsur
curhatan, aku mau minta maaf di awal, sebenarnya maksud hati cuma memberikan
contoh yang paling dekat dengan kehidupanku aja..
Kali ini aku mau riview kumpulan cerpennya Benny Arnas, “Jatuh Dari Cinta”.
Seperti judul bukunya, keempat belas cerpen di dalamnya memiliki benang merah,
Jatuh dari Cinta. Melalui cerpen-cerpen ini Kak Benny seakan memberi peringatan
ke kita, bahwa cinta itu ada masa aktifnya juga. (Udah kayak Sim Card aja
yaa...)
Belajar psikologis Pecinta dari
“Rangga dan Cinta”
Ada Apa dengan Cinta 2, selang beberapa jam film ini tayang di bioskop,
google langsung diramaikan oleh riviewnya. Aku cuma ingat film ini tayang
berdekatan dengan kembali ricuhnya keadaan Palestina, soalnya sempat booming sebuah puisi ala Rangga Sholeh
untuk Palestina. Nah, gegara puisi itu juga aku jadi sedikit kepo untuk nonton
film part pertamanya. (Pas part pertama tayang aku masih imut
soalnya)
Entah ini kebetulan, tapi ini novel ketiga yang secara berurutan lagi-lagi membahas Aceh. Setidaknya
setelah ‘Codex’, bisa baca riview-nya di Sini. Kemudian ‘Secangkir Kopi Untuk Relawan’, bisa liat hasil curhatanku di Sinijuga.